HomeKabar LAPIni Tanggapan Dan Harapan Lindsey Afsari Terhadap Kasus Baiq Nuril

Ini Tanggapan Dan Harapan Lindsey Afsari Terhadap Kasus Baiq Nuril

kabargolkar.com, JAKARTA – Kasus yang dialami Baiq Nuril, mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram ini sedang menjadi sorotan. Perempuan yang terjerat kasus Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) memperoleh banyak tanggapan tentang kasusnya. Banyak pihak bersimpati terhadap Baiq.

Lindsey Afsari Puteri, Bendahara Umum Pengurus Pusat (PP) KPPG pun prihatin terhadap kasus tersebut. KPPG atau Kesatuan Pe

rempuan Partai Golkar, selalu mengupayakan pemberdayaan kaum perempuan dan mengoptimalkan potensinya dalam masyarakat dan politik.

Melalui rilis yang diterima kabargolkar.com pada Selasa (20/11/2018), Lindsey Afsari Puteri memberikan pernyataan dan harapan terhadap Kasus Baiq Nuril.

Lindsey: hukum belum secara adil berpihak kepada kebenaran

“Saya sangat Prihatin, karena kasus ini jelas menggambarkan bahwa hukum belum secara adil berpihak kepada kebenaran atas sebuah pembelaan diri dari seorang perempuan korban kekerasan seksual,” ungkap Lindsey.

Lindsey melihat ketidakadilan, karena Baiq yang berniat membela diri akibat pelecehan malah menjadi pihak yang menerima hukuman. “Ya, Baiq Nuril korban pelecehan yang ingin membela diri kok justru diganjar hukuman oleh pelaku yang telah menindasnya! Baiq dinyatakan bersalah oleh putusan MA karena dianggap melanggar Pasal 27 ayat satu U

U ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik-red),” demikian Lindsey mengungkapkan pendapatnya.

Menurut sosok Calon Legislatif DPR-RI dapil Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu dengan nomor urut tiga ini ada ketidakadilan terhadap Baiq Nuril. Pembelaan diri dari seorang perempuan korban kekerasan seksual masih lem

ah. Hal ini dikarenakan payung hukum untuk melindungi korban kekerasan seksual seolah kalah kuat dengan payung hukum penuntut.

“Disini yang saya maksud adalah, kok ini jadi dibuat seperti ‘adu kekuatan’ UU ITE vs RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual-red). Ya, ‘penuntut’ yang bermain di wilayah ITE menjadi lebih dikuatkan karena legalitas yang mengaturnya sudah dalam bentuk undang-undang. Sedangkan, ‘korban’ justru semakin dilemahkan karena perlindungan (payung-red) hukumnya dalam konteks PKS masih terseok-seok dalam bentuk Rancangan (RUU) yang tak juga disahkan menjadi UU,” tegas Lindsey.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *